Senin, 07 September 2015

Prangko Pertama Indonesia th.1864 masih di jaman Belanda - Mint dan Used (dengan cap dan tanpa cap) + Kartupos2 jaman Belanda


 Mint

 Used

 Kartupos pertama di Indonesia (Hindia belanda) - th.1870-an


  Amplop / Envelope pertama di Indonesia (Hindia belanda) - th.1870-an











Perangko Pertama di Indonesia, masih di jaman Belanda,
perangko Ned. Indie th. 1864 bergambar Raja Belanda waktu itu - Willem III.

Prangko pertama di dunia diterbitkan di Inggris pada th.1840,
atas gagasan Sir Rowland Hill untuk memudahkan pembayaran
atas jasa pengiriman pos di masa itu, yaitu prangko bergambar Ratu Victoria
yang berwarna hitam dan masih tanpa perforasi (gerigi) bernilai one penny.
Perangko itu sekarang populer dengan nama Penny Black,
sesuai dengan bentuk dan nilainya.

Negeri Belanda sendiri akhirnya juga menerbitkan perangko pertamanya pada th.1852,
Perangko Raja Willem III nilai 5 cent berwarna biru yang tanpa perforasi.

Mengingat banyaknya lalu lintas surat antara Negeri Belanda dengan
negara jajahannya yang utama saat itu, yaitu Ned. Indie (sekarang Indonesia),
akhirnya di terbitkan perangko pertama Ned. Indie pada th.1864 bergambar
Raja Belanda waktu itu Willem III nilai 10 cent yang masih tanpa perforasi.
Perangko inilah yang menjadi perangko pertama di bumi Indonesia.

Saat ini perangko Ned. Indie pertama ini, cukup langka dan dicari
oleh kolektor perangko (Filatelis) untuk melengkapi koleksinya.
Nilainya semakin hari semakin tinggi dan umum disebut dengan
kode nama N-1 di kalangan Filatelis.
Yang kondisinya masih Mint - unused, sangat langka,
Di katalog harganya berlipat-lipat dari yang sudah dipakai - ada cap / cancelationnya.

Untuk melihat gambar yang lebih besar / lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.

Keterangan lebih lanjut mengenai pembelian, pengiriman barang,
cara pembayaran dll. silahkan hub. 0813.1540.5281 
atau e-mail: neneng123usman@gmail.com
Sudah Terjual

Jumat, 04 September 2015

Peta kuno kota Bogor di jaman Belanda, masih bernama Buitenzorg. Ukuran besar.

Peta ukuran besar: 62 cm x 47 cm

Perbandingan ukuran dengan sebuah Bolpen

Area Baranangsiang, Babakan Tondjong dan Gardoeloehoer

Area Governor General Palace dan Botanic Gardens
(Istana dan Kebun Raya Bogor)

Area Soekasari dan Batoetoelis
(Sukasari dan Batu Tulis)

Area Tjikeumeuh dan Tjiwaringin
(Cikemeh dan Ciwaringin)

Area Bondongan dan Kampung Bong

Area Deer Park dan Military Hospital
(Taman Rusa dan Rumah Sakit Militer - sekarang Rumah Sakit TNI Angkatan Darat Salak Bogor)

 Area Tjimanggoe, Pondok roempoet, Boeboelak
(Cimanggu, Pondok rumput, Bubulak)

 Area Kedoeng Halang (Kedung Halang)

 Area Tjiheuleut dan Tegallega

 Nama-nama Kampung di kota Buitenzorg (Bogor):
Kampung Blakang, Kebon Kalapu, Tjiwaringin, Djembatan merah,
Djagal, Gedong sawah, Paledang, Lawang Seketeng, Tjintjaoe, Kaoem.

 Kota-kota sekitar Buitenzorg: Batavia, Tjiandjoer, Soekaboemi, Djasinga, Bandoeng
(Kota-kota sekitar Bogor: Jakarta, Cianjur, Sukabumi, Jasinga, Bandung)

 Buatan th.1921

Ada sedikit robek kecil pada bagian atas peta,
maklum peta tua yg sudah berumur hampir satu abad


Peta Kuno kota Bogor di Jaman Belanda (Nederlandsch Indie).
Ukuran besar: Panjang lebih dari setengah meter (62 cm x 47 cm)
Bagian belakang peta: blank / kosong.

Keterangan pada Peta dalam bahasa Inggris.
Pembuatan Peta: th.1921
Dalam beberapa lipatan.

Sangat historis dan indah setelah diberi bingkai / frame dan dipajang di ruang tamu,
dan akan menjadi pusat perhatian dari setiap tamu yang datang ke rumah anda.
Inilah keadaan kota Bogor hampir seratus tahun yg lalu, jalan-jalan raya utama saat itu, 
rel kereta, area perumahan / kampung, sawah dan sungai saat itu.

Kondisi: masih lumayan bagus untuk ukuran peta yang sudah berumur hampir satu abad 
 (peta asli kuno - bukan repro)
Dicetak pada kertas jaman dulu yg tebal dan kuat.
Peta kuno kota Bogor di jaman Belanda adalah barang langka, terutama yang berukuran besar.

Untuk melihat gambar yang lebih besar / lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.

Harga: Pls call
(Ongkos kirim gratis / sudah termasuk, ke semua alamat di Pulau Jawa,
dikirim via Tiki Jne atau Pos Indonesia).
Keterangan lebih lanjut mengenai pembelian, pengiriman barang,
cara pembayaran dll. silahkan hub. 0813.1540.5281 

Jumat, 14 Agustus 2015

Buku langka tentang Jawa di masa Hindia Belanda / Nederlandsch Indie, diterbitkan tahun 1912


Tulisan 'koleksi tempo doeloe' pada buku hanya ada di Blog,
dan tidak terdapat pada buku aslinya.




Tulisan 'koleksi tempo doeloe' pada buku hanya ada di Blog,
dan tidak terdapat pada buku aslinya.

 Diterbitkan th. 1912

 Dengan 160 ilustrasi / gambar










Sebuah buku langka tentang Jawa di masa Hindia Belanda, diterbitkan tahun 1912.
Tebal 321 halaman dengan 160 ilustrasi gambar. Hardcover.
Menceritakan secara lengkap dan detail tentang keadaan di pulau Jawa, 
lebih dari 100 tahun yang lalu.
Kondisi: bagus, halaman lengkap, jilid utuh, mulus, tidak ada lobang bekas kutu buku..
Dalam bahasa Inggris, bukan bahasa Belanda.

Nama Java telah menjadi daya tarik bagi orang Barat sejak saat kaum pendatang dari Eropa
pertama kalinya tiba untuk mencari rempah-rempah.
August de Witt berkunjung ke Jawa pada awal abad ke-20, dalam rangka tugasnya
sebagai wartawan Singapore Strait Times yang berpusat di Singapura.
Ketika August de Witt datang untuk melakukan tour nya di pulau Jawa pada dekade pertama abad ini dia menemukan,
tidak hanya dongeng, legenda dan mimpi, tetapi juga sebuah negara manufaktur yang makmur dan sibuk.
Ia tiba pada saat fase penting dari perkembangan di pulau jawa, ketika rezim kolonial Belanda
baru saja memulai 'Politik Etis'.Tidak hanya membayar 'utang' untuk kaum petani miskin
tapi juga untuk memfasilitasi kepentingan kapitalisme pada industri modern.

August De Witt melakukan penyelidikan yg lebih mendalam dan tidak membatasi dirinya
hanya dengan kalangan Belanda atau kalangan Bangsawan Jawa, tetapi juga pengamatan
pada rakyat biasa dan kehidupan sehari-harinya.
Sebuah catatan yg memberikan informasi yang lengkap dari pengamatannya
pada kalangan Bangsawan dan Petani di Jawa, melalui berbagai ilustrasi gambar.
Ia menyajikan sebuah dokumen sosial yang penting dan menarik
dari satu masyarakat yang sedang didalam transisi / perubahan.

Dalam salah satu catatan perjalanannya  yg ditulis dalam bukunya Java (1912),
ia menceritakan ketika mendarat di Tanjung Priok, dari mana-mana muncul para pembantu
dengan koper-koper dan para penumpang karena pelabuhan sudah semakin dekat.       
Tidak lama kemudian kapal berhenti, kami dengan perasaan lega memasuki dermaga Tanjung Priok.
Lalu kami naik kereta api yang segera bergerak melaju kencang melintasi pemandangan alam yang liar, 
separuh hutan dan separuh rawa.

Setelah menumpang kereta api dari stasiun Tanjung Priok menuju Batavia,
perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan kereta kuda menuju daerah Rijswijk (sekarang Jl. Veteran).
Penulis menceritakan tentang 'rijsttafel' : persiapannya yang menjadi misteri, 
serta diselenggarakan pada jam 12 siang. 
Ada dua hal yang menarik perhatiannya yaitu pertama, hidangan tersebut disajikan 
tidak di ruang makan biasa melainkan di bagian belakang.                                                                                                  
Ia tertarik pada pakaian yang dikenakan para pelayan pribumi yang menghidangkan rijsttafel itu. 
Mereka mengenakan pakaian potongan semi Eropa yang dikombinasi dengan sarung dan ikat kepala:
hidangan pedas itu disajikan bolak-balik dengan nyaris tak bersuara oleh para pelayan pribumi dengan kaki telanjang 
serta berpakaian separuh Indies, separuh Eropa.

Tentunya aneka hidangan rijsttafel itu sendiri juga menarik perhatian August de Witt.                
Hidangan utamanya nasi dan ayam. Yang juga dilengkapi dengan aneka lauk pauk yang berupa daging asap, 
ikan dengan berbagai bumbu kari, saus, acar, telor asin, pisang goreng, dan tak ketinggalan sambal ati ayam, 
semuanya diberi bumbu cabai.
Pengalaman yang tak terlupakan adalah ketika ia untuk pertama kali mencicipi sambal.
Bibirnya langsung gemetar kepedasan. Leher terasa panas seperti terbakar
sehingga harus diguyur air minum, sementara air mata bercucuran.

Untuk melihat gambar yang lebih besar / lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.

Keterangan lebih lanjut mengenai pembelian, pengiriman barang,
cara pembayaran dll. silahkan hub. 0813.1540.5281 
atau e-mail: neneng123usman@gmail.com
Sudah Terjual