Senin, 01 September 2014

Buku kuno langka, Sedjarah Perdjuangan Harimau Kurandji th.1945 - 1950 di Sumatera Tengah

Sudah Terjual


 Sedjarah Perdjuangan Harimau Kurandji 
th.1945 - 1950 di Sumatera Tengah

 Buku diterbitkan di Padang th.1957

Presiden Soekarno / Panglima Tertinggi mengundjungi markas Resimen Kurandji di Solok

 Para pedjuang tetap bertahan dengan gigihnya

 Saat-saat Proklamasi 17-8-'45

Peringatan Setahun Merdeka
Achirnya sampailah putaran sedjarah RI kepada usia setahun

 Diwaktu pasukan Letnan Amiruddin memasuki kota Padang

 Presiden Soekarno / Panglima Tertinggi sedang memeriksa barisan kehormatan
sewaktu beliau mengundjungi Sumatera Tengah

 21 Djuli '47 Belanda melantjarkan Agresi I 
Bung Hatta datang ke Sumatera Tengah

 Let. Kol. Ahmad Husein
Harimau Kurandji yang ditjintai bawahannya dan dipertjayai rakyat Sumatera Tengah
Dan achirnya ketua Dewan Banteng

 Kolonel Dahlan Djambek, Panglima Divisi Banteng yang pertama

Dusun Kurandji - disinilah asal mulanya nama "Harimau Kurandji"
Dusun ini terletak kira-kira 5 km dari kota Padang

Gambar Sketsa Dusun Kurandji pada halaman belakang buku

Buku langka tentang Let. Kol. Ahmad Husein, ia adalah Harimau Kurandji yang ditjintai bawahannya dan dipertjayai
rakyat Sumatera Tengah, dan achirnya menjadi ketua Dewan Banteng
Lahir di Padang, Sumatera Barat, 1 April 1925 – meninggal di Padang, 28 November 1998 pada umur 73 tahun) adalah seorang pejuang Kemerdekaan Indonesia dan pemimpin militer PRRI. 

Pada tanggal 15 Februari 1958 di Padang ia membentuk Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) 
dibawah pimpinan Syafruddin Prawiranegara sebagai Perdana Menteri dengan tujuan mengoreksi pemerintahan otoriter Soekarno yang dianggap inkonstitusional dan mengabaikan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di daerah.

Tindakan koreksinya itu ternyata mendapat sambutan berupa aksi militer dari pemerintah pusat di Jakarta
sehingga menimbulkan perang saudara di Sumatera Barat.
Dewan Banteng yang dibentuk di Padang pada tanggal 20 Desember 1956 adalah cikal bakal  dari PRRI,
walaupun pada awalnya bertujuan membangun daerah yang dirasa tertinggal dibanding pembangunan di pulau Jawa.

Dewan yang diprakarsai oleh Kolonel Ismail Lengah itu diketuai oleh Letnan Kolonel Ahmad Husein.
Dewan Banteng terbentuk setelah melalui dua kali pertemuan para perwira aktif maupun pensiunan yang berasal dari Divisi IX Banteng, suatu divisi dalam Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) yang dibentuk pada masa Perang Kemerdekaan
tahun 1945 - 1950 melawan kolonialis Belanda. Sebelumnya divisi yang telah dibubarkan pemerintah itu membawahi teritorial
Sumatera Tengah (Sumbar, Riau, Kepulauan Riau dan Jambi sekarang).
Salah satu resimen Komando Divisi IX Banteng yaitu Resimen 6 dianggap sebagai pasukan terbaik di Sumatera.

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Husein

Untuk melihat gambar yang lebih besar / lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.

Keterangan lebih lanjut mengenai pembelian, pengiriman barang,
cara pembayaran dll. silahkan hub. 0813.1540.5281 
atau e-mail: neneng123usman@gmail.com
Sold

Minggu, 31 Agustus 2014

Boven Digoel, buku kuno langka dari jaman Belanda, tempat pembuangan tokoh-tokoh Kemerdekaan Indonesia

Sudah Terjual




 Dicetak dan diterbitkan oleh
N.V. Koninklijke Drukkerij De Unie 
Batavia Centrum (sekarang Jakarta Pusat)

Kapten L. Th. Becking
pendiri Kamp konsentrasi Boven Digoel di awal tahun 1927.

 Buku dicetak di Batavia th.1936

 Daftar isi buku

 Peta Indonesia bagian timur di jaman Belanda

 Peta Papua di jaman Belanda

 Peta Boven Digoel

 Penduduk lokal suku asli yang belum mengenal pakaian





 Seluruh tenaga kesehatan untuk rumah sakit Wilhelmina



 Slamat Berpisah - Boven Digoel 21 Januari 1931
Till We Meet Again

 Tanda Peringatan - Fotografers
Boven Digoel 1 Februari 1932




 Ali Archam tokoh Pemberontakan PKI pada Pemerintah Belanda di Banten th. 1926
Meninggal di Boven Digoel tgl.2 Juli 1933

Makam Ali Archam, dengan lambang komunis Palu dan Arit

Boven Digoel, buku kuno langka dari jaman Belanda, tempat pembuangan tokoh-tokoh Kemerdekaan Indonesia.
Banyak foto-foto didalam, masih dalam bahasa belanda.
Hard Cover. 
Kondisi: buku tua, ada lubang-lubang kecil bekas rayap.

Kamp Pengasingan di Boven Digoel, Papua
Tempat ini merupakan kamp-kamp yang digunakan oleh kolonial Belanda untuk membuang atau mengasingkan 
hukuman bagi orang-orang yang terlibat dalam pemberontakan terhadap Belanda.
Karena kondisi lingkungannya yang tidak baik untuk tinggal, ditempat ini terdapat banyak nyamuk malaria yang dapat mematikan manusia atau tawanan, beberapa tawanan sampai menderita penyakit kencing hitam yang mengerikan, tempat ini merupakan 
penjara alam yang mematikan dan letaknya berada di hutan belantara di tepi sungai Digoel yang jauh dari beradaban manusia.

Sebelumnya tempat pembuangan tokoh-tokoh Indonesia pada jaman Belanda adalah di Luar Negeri, 
Tiga pemimpin partai politik pertama di Indonesia dibuang ke Eropa antara lain E.F.E Douwes Deker, Suwardi Suryaningrat, 
Tjipto Mangunkusumo.Tokoh Indonesia yang terakhir dibuang di Luar Negeri adalah  Semaun dan Darsono (dua orang ini adalah pemimpin pemogokan kaum buruh pada tahun 1923). 

Boven Digoel diperkuat administrasinya oleh Belanda dan dibangunlah pengasingan oleh kekuasaan militer pada saat itu. 
Kamp konsentrasi Boven Digoel didirikan oleh Kapten L. Th. Becking pada awal tahun 1927. 
Sebelumnya Kapten ini dikenal sukses memadamkan pemberontakan Komunis di Banten pada November 1926.

Penghuni Kamp Digoel ini hampir semuanya adalah para aktivis politik yang melakukan pemberontakan kepada kolonial Belanda, Banyak tokoh-tokoh terkenal yang dibuang ke kamp ini, beberapa tokoh Indonesia yang fenomenal dibuang oleh pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1935, tokoh-tokoh tersebut adalah Mohammad Hatta (wakil Presiden 1945), Sutan Syahir, 
dan para tokoh perjuangan lainnya.

Boven Digoel merupakan tempat terpencil, terletak di tengah hutan belantara yang sangat sulit ditembus dan tempatnya sangat jauh terisolasi, sehingga para tawanan akan kesulitan untuk melarikan diri dari penjara alam ini. Bukan hanya karena alamnya yang demikian keras, namun juga ada beberapa siksaan kaum kolonialis, ada tangisan kesedihan dari para tawanan, juga kegeraman 
dan kertakan gigi, bahkan darah yang tertumpah untuk sebuah perjuangan membebaskan diri dari belenggu kolonialis.
Sumber:

Untuk melihat gambar yang lebih besar / lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.

Keterangan lebih lanjut mengenai pembelian, pengiriman barang, 
cara pembayaran dll. silahkan hub. 0813.1540.5281 
atau e-mail: neneng123usman@gmail.com

Sold

Sabtu, 30 Agustus 2014

Satu Album - 81 bh. foto-foto Bung Karno pada Musjawarah Nasional Maritim September 1963


 Bung Karno dan Mobil Kepresidenan RI -1 







 Penjematan Lambang Nachoda Agung kepada P.J.M. Presiden Soekarno
jang dilakukan oleh Ibu Jos Soedarso (Janda Pahlawan Jos Soedarso)


Bung Karno menari Lenso
Berlenso dan Bergembira


 Amanat J.M. Wampa Hankam/Kasab (Panglima TNI)
Djendral Dr. A.H. Nasution

 Amanat J.M. M/Pangal (Kepala Staf Angkatan Laut / KSAL)
Laksamana E. Martadinata

 Amanat J.M. Wampa Chusus / Menteri penerangan
Dr. Hadji Roeslan Abdulgani




  Musjawarah Nasional Maritim 23 s/d 28 September 1963

Satu Album - 81 bh. foto-foto Bung Karno pada Musjawarah Nasional Maritim September 1963, 
dan foto-foto pejabat-pejabat lainnya dalam musjawarah tsb.
Semuanya foto hitam putih asli jadul th.60an, tersimpan dalam satu album foto tua.
Ditambah bonus buku tua karangan dari Bung Karno, "Sarinah" yang terbit th.1963.

Bapak pendiri bangsa ini rasanya tidak perlu dikisahkan lagi disini mengenai kiprahnya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bung Karno adalah tokoh sentral perjuangan. Begitupun kiprahnya di percaturan politik Internasional, namanya begitu di segani 
oleh dunia barat, dunia timur maupun negara-negara baru dan bangsa-bangsa yang sedang berjuang untuk kemerdekaan.

Presiden Republik Indonesia yang pertama Dr. Ir. Soekarno atau yang akrab dengan nama sapaan perjuangan Bung Karno, saat dilahirkan di Surabaya pada tanggal 6 Juni 1901 mempunyai nama lahir Koesno Sosrodihardjo oleh orangtuanya.

Bung Karno/ Sukarno adalah keturunan Jawa dan Bali, ayahnya adalah Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya yaitu Ida Ayu Nyoman Rai . Ir. Sukarno menikahi Siti Oetari pada tahun 1920 namun bercerai pada tahun 1923 dan kemudian menikah dengan Inggit Garnasih. Kemudian tahun 1943 menikah dengan Fatmawati, setelah bercerai dengan Inggit Garnasih.

Sukarno juga menikah dengan Hartini pada tahun 1954, setelah kejadian ini beliau dan Fatmawati hidup berpisah. 
Pada tahun 1959 beliau berkunjung ke Jepang dan diperkenalkan oleh tuan rumah kepada gadis berusia 19 tahun Naoko Nemoto, yang dinikahinya pada tahun 1962 dan berganti nama menjadi Ratna Dewi Soekarno.
Tercatat Sukarno juga menikah dengan lima pasangan lainnya, yaitu : Haryati [1963-1966], Kartini Manoppo [1959 -1968], Yurike Sanger [1964-1968] dan Heldy Djafar [1966-1969].

Megawati Soekarnoputri yang menjabat sebagai presiden kelima Indonesia, adalah putrinya dari istrinya Fatmawati . 
Adiknya Guruh mewarisi bakat artistik Sukarno yang merupakan koreografer dan penulis lagu juga seorang sineas, 
hasil karyanya tak pernah lepas dari nafas ke-Indonesiaan. Saudara-saudaranya Guntur Soekarnoputra , Rachmawati Soekarnoputri dan Sukmawati Sukarnoputri semuanya aktif dalam politik.

Soekarno wafat pada usia 69 tahun pada hari Minggu tanggal 21 Juni 1970 di di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta setelah mengalami sakit. 

Untuk melihat gambar yang lebih besar / lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.

Harga: Silahkan Nego
(Ongkos kirim free/gratis, dikirim via Tiki Jne atau Pos Indonesia)
Keterangan lebih lanjut mengenai pembelian, pengiriman barang,
cara pembayaran dll. silahkan hub. 0813.1540.5281 
atau e-mail: neneng123usman@gmail.com