Selasa, 16 September 2014

Buku kuno dari jaman Belanda ttg. Tanaman dan Tumbuhan, Vetplanten


Diterbitkan th.1932


Perbandingan ukuran buku dengan sebuah HP Blackberry

Plat gambar yg bisa dilepas/diambil, bukan tercetak di buku

















VETPLANTEN. door A.J. Van Laren. Te illustreeren met Verkade's plaatjes. th.1932
Buku ukuran besar: 23 cm x 30 cm, 101 halaman, dengan ilustrasi gambar seukuran cigarette card 
sebanyak 125 lembar (lengkap) dan 18 lembar ukuran besar (lihat gambar) lengkap.
Semua gambar adalah di tempelkan pada buku dan bisa dilepas/diambil, bukan di cetak/di print.
Kondisi masih baik dan utuh.
Milik seorang keturunan Belanda yg kakeknya dulu Ahli Botani di salah satu Taman Botani terbesar di dunia pada masa itu, Buitenzorg Botanical Garden yg sekarang ini adalah Kebun Raya Bogor

Mengenai Kebun Raya Bogor, kita bisa mengetahui sejarahnya melalui artikel dibawah ini, 
yang di ambil dari situs Wikipedia dalam bahasa Inggris.

The Bogor Botanical Gardens (Indonesian: Kebun Raya Bogor) 
is a botanical garden located in Bogor, Indonesia, 60 km south of Jakarta. 
The gardens are in the city center and adjoin the Istana Bogor (Presidential Palace).
The gardens cover more than 80 hectares

History
The area that was now Bogor Botanical Gardens was part of the samida (man made forest) that was established at least around the era when Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, 1474-1513) rules the Sunda Kingdom, as written in the Batutulis inscription. This forest was created to protect seeds of rare woods. 
Another similar samida was established near the current border between Bogor and Cianjur, called Ciung Wanara Forest. 
This forest was neglected after the Sunda Kingdom was defeated by the Banten Sultanate.

In 1744, the Dutch East India Company established a garden and mansion at the site of the present Botanical Gardens 
in Buitenzorg (now known as Bogor).

In 1811, Stamford Raffles was appointed Lieutenant-Governor of Java. Raffles had the garden in Buitenzorg re-landscaped. 
His wife, Olivia Raffles, died in Bogor in 1814. A memorial her now stands in the grounds of the Bogor Botanical Gardens.

In 1817, the status of the gardens in Bogor was formally lifted to the rank of Botanical Gardens. 
The gardens officially opened in 1817 as 's Lands Plantentuin ('National Botanical Garden'), 
the idea of which was introduced by German-born Dutch biologist and botanist Professor Caspar Georg Carl Reinwardt. 
They were used to research and develop plants and seeds from other parts of Indonesia for cultivation during the 19th century. 
This is a tradition that continues today and contributes to the garden's reputation as a center of botanical research.

In 1848, the West African oil palm, was introduced into the gardens. 
This is believed to be the mother tree in Southeast Asia from which numerous descendants, 
were produced to support the growth of the palm oil industry in the region.

In 1862, The Cibodas Botanical Gardens were established as an extension of the Bogor gardens.

In 1889, The Teysmann Garden, a formal garden in the symmetrical European styles, was established in honor of 
Johannes Elias Teijsmann, curator of the Bogor Botanical Gardens from 1830 to 1869.

In 1928, the Astrid Avenue, which contains spectacular display of canna lilies of various colors, 
was established on the eastern side of the gardens in memory of a visit by Princess Astrid of Belgium.

Features
Today the garden contains more than 15,000 species of trees and plants. 
There are 400 types of exceptional palms along lawns and avenues.
The Gardens are a refuge for more than 50 different varieties of birds and for groups of bats roosting high in the trees. 
The orchid houses contain some 3,000 varieties. 
In 1862, the Cibodas Botanical Gardens were founded as an extension of the Bogor garden at Cibodas, 
approximately 45 kilometers to the southeast of Bogor.

Directors of the garden
1817–1822 : Caspar Georg Carl Reinwardt (1773–1854)
1823–1826 : Carl Ludwig Blume (1789–1862)
1830–1869 : Johannes Elias Teijsmann (1808–1882)
1869–1880 : Rudolph Herman Christiaan Carel Scheffer (1844–1880)
1880–1910 : Melchior Treub (1851–1910)
1910–1918 : J.C. Koningsberger
1918–1932 : Willem Marius Docters van Leeuwen (1880–1960)
1932–1939 : K.W. Dammerman
1939–1940 : L.G.M. Baas Becking
1940–1941 : T.H. Honert

Untuk melihat gambar yang lebih besar / lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.

Keterangan lebih lanjut mengenai pembelian, pengiriman barang, 
cara pembayaran dll. silahkan hub. 0813.1540.5281 
atau e-mail: neneng123usman@gmail.com

Senin, 15 September 2014

Salah satu jenis Prangko paling langka dari jaman Belanda di Indonesia, prangko NIVO Steunzegel 1 set lengkap - 4 bh. prangko


Orang Utan - nominal 2 cent

Kerbau - nominal 3 cent

Penari Jawa - nominal 5 cent

Penari Bali - nominal 10 cent

Tidak tercantum di Katalog Prangko Indonesia, 
tapi terdapat di katalog yg diterbitkan Belanda oleh Leo B. Vosse.
Salah satu Prangko yg paling langka dari jaman Belanda di Indonesia.

Untuk melihat gambar yang lebih besar / lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.

Harga: 1 jt.
(Ongkos kirim free/gratis, dikirim via Tiki Jne atau Pos Indonesia) 
Keterangan lebih lanjut mengenai pembelian, pengiriman barang, 
cara pembayaran dll. silahkan hub. 0813.1540.5281 
atau e-mail: neneng123usman@gmail.com

Sabtu, 13 September 2014

Set lengkap 12 bh. Print kuno Religi dari jaman Belanda, Yesus dalam Jalan Salib


Bagian belakang


Bagian belakang






  




Set lengkap 12 bh. Print kuno dari jaman Belanda, Yesus dalam Jalan Salib.
Lengkap berurutan dari no.1 s/d no.12
Berasal dari sebuah rumah tua di Depok lama yg masih banyak keturunan Belandanya,
bersama dengan buku resep Blue Band yg posting Blognya ada dibawah posting ini.
Print kuno Religi dari jaman Belanda adalah barang langka saat ini.

Tercetak dalam kertas yg agak tebal.
Ukuran: 15 cm x 20 cm
Bagian belakang: blank/kosong.

Untuk melihat gambar yang lebih besar / lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.

Harga: 30 rb. per bh
(Ongkos kirim free/gratis, dikirim via Tiki Jne atau Pos Indonesia) 
Keterangan lebih lanjut mengenai pembelian, pengiriman barang, 
cara pembayaran dll. silahkan hub. 0813.1540.5281
atau e-mail: neneng123usman@gmail.com

Buku resep kue-kue dan masakan kuno Blue Band dari jaman Belanda

















Produk Blue Band masa kini di Indonesia

Buku resep kue-kue dan masakan kuno Blue Band dari jaman Belanda (Nederlandsch Indie).
Ada banyak resep-resep kuno dari jaman Belanda yg merupakan resep asli dari masa itu.
Konon menjadi resep-resep rahasia dari sebuah Toko Roti dan Kue-kue yg terkenal di Jakarta.

Di Indonesia Blue Band pertama kali diproduksi di Batavia (sekarang Jakarta) pada th.1936, oleh N.V. Van den Bergh.
Anak perusahaan dari sebuah perusahaan margarin/mentega 'Margarine Unie', yg berasal dari Belanda,

Tebal: 80 halaman, dengan lebih dari seratus resep kue-kue dan masakan dari jaman Belanda,
dalam bahasa Belanda.

Untuk melihat gambar yang lebih besar / lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.

Harga: 200 rb.
(Ongkos kirim free/gratis, dikirim via Tiki Jne atau Pos Indonesia) 
Keterangan lebih lanjut mengenai pembelian, pengiriman barang, 
cara pembayaran dll. silahkan hub. 0813.1540.5281 
atau e-mail: neneng123usman@gmail.com