Selasa, 09 Oktober 2012

2 bh. foto asli gedung Harmonie yang telah dihancurkan th.1985 untuk menjadi bagian dari gedung Sekretariat Negara (Sekneg)

Gedung Harmonie
di lihat dari Jl. Majapahit

Gedung Harmonie (sebelah kiri)
di lihat dari Jl. Gajah Mada

Inilah gedung Harmonie, yang telah dihancurkan tahun 1985 untuk menjadi bagian dari gedung Sekretariat Negara (Sekneg) yang diabadikan awal th.1970 an.
Harmonie Club merupakan salah satu gedung paling menawan dari bangunan2 abad ke-19 di Batavia. Hingga banyak yang menyayangkan kenapa ia harus dibongkar.
2 bh. Foto tua asli hitam putih ukuran kartu pos, bagian belakang foto: blank / kosong.
Saya ada memiliki 20 bh. foto-foto tua seperti ini yang menggambarkan keadaan 
kota Jakarta pada masa itu.

Di Harmonie tempo doeloe, masyarakat Eropa tingkat atas sering berdansa di lantai pualam, diterangi lampu-lampu kristal gemerlapan sambil minum anggur dan kadang2 ada yang ambruk karena teler.
Tidak lupa mereka berbicara soal politik di klub ini bagaimana melanggengkan kekuasaan kolonial Belanda sambil menikmati makanan tengah malam di bawah sinar bulan diteras yang ditanami bunga warna-warni.

Gedung yang terletak dipaling sudut Rijswijk (kini Jl Veteran) pembangunannya dimulai pada masa Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811), kemudian dilanjutkan penggantinya letnan gubernur Raffles pada masa Inggris (1811-1815). Raffles sendiri yang meresmikan gedung yang diarsiteki seorang putra Melayu pada 18 Januari 1815 untuk menghormati hari kelahiran Ratu Charlotte, istri Raja Inggris George III. 
Gedung Harmoni yang telah almarhum itu merupakan contoh terbaik bangunan Empire Style di Asia Tenggara.

Diberitakan, pesta peresmian berjalan sangat meriah dengan berbagai atraksi termasuk dansa-dansi yang dimulai pukul 21.00 hingga dini hari diselingi makan larut malam.
Pada saat itu hubungan antara pejabat Inggris dan Belanda dikukuhkan dengan toast berulang-ulang dipelopori Raffles sendiri.

Di sini dalam ruang yang memuat 600 orang terutama para pegawai Belanda sering berakhir dengan perkelahian dan baku hantam khas Belanda. Paling sering karena memperebutkan hareem terutama saat dansa-dansi akibat banyak menenggak minuman haram.
Charles Warter Kinloch warga Inggris yang tamasa ke Batavia (1852) menggambarkan:
”Kehidupan elit Eropa dan Belanda di Batavia penuh glamour.
Wanitanya sering gunakan pettycoat yang bagian bawahnya melebar seperti kurungan ayam. Mereka juga mendatangkan pakaian-pakaian mode terbaru dari Paris, London, dan Amsterdam.

Untuk melihat gambar yang lebih besar / lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.


Keterangan lebih lanjut mengenai pembelian,
pengiriman barang, cara pembayaran dll.
silahkan hub. HP. 0813.1540.5281
Pengiriman ke luar kota, tambahkan sedikit ongkos kirim
untuk biaya TIKI atau Posindo. 

Sudah Terjual

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar