Kamis, 11 Februari 2016

Td. tangan asli th. 1973 Laksamana Sudomo - KASAL dan Pangkopkamtib






Ingat Sudomo, ingat Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkokamtib). 
Ini adalah jabatan paling sakti saat Soeharto berkuasa di awal periode. Lewat jabatan ini, Sudomo turut mengukir sejarah Indonesia. Kini, laksamana bintang empat itu kembali ke haribaan-Nya. 

Sudomo tutup usia di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (18\/4\/2012) setelah dirawat sejak Sabtu (14\/4\/2012) karena pendarahan di otak. Semasa hidup, kiprahnya sering menghiasi media massa.

Mendengar Sudomo mengembalikan ingatan sejarah kepada sebuah keadaan politik di tahun 1970 dan 1980-an di era pemerintahan Orde Baru.

Wikipedia mencatat, selama 23 tahun dari pemerintahan Orde Baru, Kopkamtib telah menjadi gugus tugas pemerintah militer untuk melaksanakan kegiatan keamanan dan intelejen. Lewat serangkaian kegiatan tersebut, Kopkamtib dapat menggunakan seluruh aset dan personalia pemerintahan sipil di Indonesia demi kepentingan apa yang disebut pemerintah Orde Baru sebagai mempertahankan pelaksanaan pembangunan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dan Sudomo adalah Pangkokamtib periode 17 April 1978-29 Maret 1983, meneruskan seniornya Jenderal Soeharto, M Panggabean dan Sumitro. 

Saat Pangkokamtib dipegang langsung oleh Presiden Soeharto pada 28 Januari 1974-17 April 1978, Sudomo adalah Kaskopkamtib, pelaksana tugas sehari-hari Kopkamtib.

Perjalanan karier Sudomo sendiri dimulai dari dunia pelayaran yang dijajakinya selepas tamat dari pendidikan SMP pada tahun 1943. Dunia pelayaran mengarahkan ketertarikannya kepada dunia militer. Sudomo muda lalu mulai menapaki dunia militer dengan mengikuti pendidikan Perwira Special Operation dan kursus Komandan Destroyer Gdyna, Polandia. Sudomo menamatkan pendidikannya itu tahun 1958. Di sinilah dimulainya kiprah militer Sudomo.

Prestasinya di dunia militer dan pelayaran membantu kelancaran pendidikannya untuk terus menempuh pendidikan di luar negeri. Sudomo juga sempat mengikuti pendidikan di Lemhannas, Sekolah Para Komando KKO, dan SESKOAL. Sejumlah operasi militer di bawah komando presiden Sukarno juga pernah dijalankannya. Misalnya, pertempuran di Laut Arafuru dan pembebasan Irian Barat. Dua perang itu menjadi cerita kesuksesannya dalam karier militer Sudomo. Kecemerlangan Sudomo terus berlanjut di era Soeharto.

Di masa pemerintahan Orde Baru ini, Sudomo tercatat pernah mengemban amanah sebagai Kepala Staf TNI AL (1969-1973) dan Panglima Komando Pengendalian Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) tahun 1978-1983 yang bertugas memelihara stabilitas.

Era awal tahun 1980-an hingga akhir 1990-an merupakan salah satu penggalan sejarah berdarah politik Indonesia. Karena pada kurun waktu itu, rezim Orde Baru memberlakukan UU Subversif. Dunia intelijen Indonesia yang mendapat pembenaran penuh di bawah UU Subversif, diwarnai oleh tangan dingin Sudomo. Sudomo mampu mengendalikan sejumlah kemelut dan konflik sosial-politik di sejumlah daerah. Dunia intelijen Indonesia ketika itu ditangani oleh kepiawaian trio jenderal, yaitu Sudomo, LB Moerdani dan Yoga Soegama.

Tidak cukup berkarier di militer, sejumlah posisi politik di pemerintahan pernah diembankan Presiden Soeharto ke pundaknya. Sudomo sempat merasakan kursi Senayan dengan menjadi anggota MPR RI, menjabat Menteri Tenaga Kerja (1983-1988), Menko Polkam (1988-1993), dan puncaknya sebagai ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) periode 1993 hingga 1998. Kariernya berakhir dengan runtuhnya kekuasaan rezim Orde Baru pada tahun 1998 dengan terjadinya reformasi. Posisinya yang penting di masa Orba, membuat publik menilainya sebagai salah seorang kroni Soeharto.

Sebagai petinggi, wajar bila namanya sering dikaitkan dengan sejumlah kasus. Kasus yang menarik-narik Sudomo misalnya dugaan pelanggaran HAM kasus Talangsari, Lampung, yang terjadi pada 1989 dan juga katabelece Edi Tansil.

Tak cuma urusan politik dan militer yang membuat Sudomo menjadi sosok yang menarik. Kehidupan privat pria kelahiran Malang, 20 September 1926 juga jadi berita. Dalam perjalanan hidupnya, Sudomo pernah menikah dengan tiga perempuan dalam rentang waktu berbeda. Dengan istri pertamanya, Fransisca Play, Sudomo dikaruniai empat orang anak. Mereka adalah Biakto Trikora Putra, Prihatina Dwikora Putri, Martini Yuanita Ampera Putri, dan Meidyawati Banjarina Pelita Putri. Yang unik, keempat anaknya tersebut diberi nama berdasarkan momentum politik yang mengemuka saat itu.

Selang 10 tahun kemudian Sudomo menikahi Fransiska Diah Widhowaty. Namun pernikahan ini hanya berlangsung empat tahun. Setelah itu, Sudomo menikah dengan Aty Kesumawati. Namun kembali kandas.

Di usia senja, Sudomo mengisi waktunya dengan kegiatan keagamaan. Dia rajin ke masjid, termasuk untuk salat subuh di pagi buta. Bahkan dalam suatu kesempatan, dia mengaku hidupnya baru dimulai di usia 75 tahun, saat Illahi menjadi satu-satunya pujaan. Selamat jalan, Pak Domo..
Sudomo dimakamkan di Taman Makam pahlawan Kalibata hari ini pukul 09.00 WIB.

Wakil Presiden Boediono menjadi inspektur upacara pada pemakaman tersebut.

Sumber:
http://news.detik.com/berita/1895128/sudomo-jenderal-bertangan-dingin-orba-itu-telah-tiada

Untuk melihat gambar yang lebih besar / lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.

Selain ini saya juga memiliki Td. tangan asli dari Tokoh Indonesia yg sudah tiada / alm. lainnya :
1} Jenderal T.B. Simatupang, Pahlawan nasional, Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia
2} Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta
3} J.B. Sumarlin, Menko Ekkuin / Ketua Bappenas
Harga: Rp 1 jt. untuk 4 bh. semuanya Td. tangan asli Tokoh2 Indonesia ini

(Ongkos kirim gratis, ke semua alamat di Pulau Jawa,
dikirim lewat JNE atau Pos Indonesia).
Keterangan lebih lanjut mengenai pembelian, pengiriman barang,
cara pembayaran dll. silahkan hub. 0813.1540.5281
Sudah Terjual 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar