Selasa, 21 Januari 2014

Buku karangan R.A. Kartini "Habis Gelap Terbitlah Terang".

Habis Gelap Terbitlah Terang

Buku diterbitkan: Djakarta 1962

R.A. Kartini

Tiga Serangkai: Kartini - Kardinah - Rukmini

R.M. Adipati Ario Sosroningrat, ayah dari R.A. Kartini

Dr. N. Adriani dan isteri (di foto tahun 1911)

H. van Kol dan anaknja perempuan (di foto tahun 1904)

Kerajinan mengukir kayu di kota Jepara sudah ada sejak jaman Belanda.


Makam R.A. Kartini di Bulu, dekat Rembang.

Buku karangan R.A. Kartini
"Habis Gelap terbitlah terang"
Diterbitkan oleh Balai Pustaka Djakarta  th.1962
Tebal:  234 halaman plus.
Kondisi buku: ada kekuningan asli buku jadul, halaman lengkap.
Buku Kartini yang jadul (bukan edisi masa kini) adalah buku yang cukup langka.
             
Raden Ajeng Kartini
"Door Duisternis tot Licht" - "Habis Gelap Terbitlah Terang", itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.

Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.

Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu.

Pada saat itu, Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879, ini sebenarnya sangat menginginkan bisa memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, namun sebagaimana kebiasaan saat itu dia pun tidak diizinkan oleh orang tuanya.

Dia hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar. Setamat E.L.S, Kartini pun dipingit sebagaimana kebiasaan atau adat-istiadat yang berlaku di tempat kelahirannya dimana setelah seorang wanita menamatkan sekolah di tingkat sekolah dasar, gadis tersebut harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah.

Merasakan hambatan demikian, Kartini remaja yang banyak bergaul dengan orang-orang terpelajar serta gemar membaca buku khususnya buku-buku mengenai kemajuan wanita seperti karya-karya Multatuli "Max Havelaar" dan karya tokoh-tokoh pejuang wanita di Eropa, mulai menyadari betapa tertinggalnya wanita sebangsanya bila dibandingkan dengan wanita bangsa lain terutama wanita Eropa. 
 Dia merasakan sendiri bagaimana ia hanya diperbolehkan sekolah sampai tingkat sekolah dasar saja padahal dirinya adalah anak seorang Bupati. Hatinya merasa sedih melihat kaumnya dari anak keluarga biasa yang tidak pernah disekolahkan sama sekali.

Sejak saat itu, dia pun berkeinginan dan bertekad untuk memajukan wanita bangsanya, Indonesia. Dan langkah untuk memajukan itu menurutnya bisa dicapai melalui pendidikan. Untuk merealisasikan cita-citanya itu, dia mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semuanya itu diberikannya tanpa memungut bayaran alias cuma-cuma.

Bahkan demi cita-cita mulianya itu, dia sendiri berencana mengikuti Sekolah Guru di Negeri Belanda dengan maksud agar dirinya bisa menjadi seorang pendidik yang lebih baik. Beasiswa dari Pemerintah Belanda pun telah berhasil diperolehnya, namun keinginan tersebut kembali tidak tercapai karena larangan orangtuanya. Guna mencegah kepergiannya tersebut, orangtuanya pun memaksanya menikah pada saat itu dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang.

Berbagai rintangan tidak menyurutkan semangatnya, bahkan pernikahan sekalipun. Setelah menikah, dia masih mendirikan sekolah di Rembang di samping sekolah di Jepara yang sudah didirikannya sebelum menikah. Apa yang dilakukannya dengan sekolah itu kemudian diikuti oleh wanita-wanita lainnya dengan mendirikan ‘Sekolah Kartini’ di tempat masing-masing seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon.

Setelah meninggalnya Kartini, surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Apa yang terdapat dalam buku itu sangat berpengaruh besar dalam mendorong kemajuan wanita Indonesia karena isi tulisan tersebut telah menjadi sumber motivasi perjuangan bagi kaum wanita Indonesia di kemudian hari.

Apa yang sudah dilakukan RA Kartini sangatlah besar pengaruhnya kepada kebangkitan bangsa ini. Mungkin akan lebih besar dan lebih banyak lagi yang akan dilakukannya seandainya Allah memberikan usia yang panjang kepadanya. Namun Allah menghendaki lain, ia meninggal dunia di usia muda, usia 25 tahun, yakni pada tanggal 17 September 1904, ketika melahirkan putra pertamanya.

Mengingat besarnya jasa Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara, pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.
Sumber: http//www.tokohindonesia.com
Untuk melihat gambar yang lebih besar / lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.

Keterangan lebih lanjut mengenai pembelian, pengiriman barang,
cara pembayaran dll. silahkan hub. 0813.1540.5281
atau e-mail: neneng1971@yahoo.com .
Sudah Terjual

Senin, 20 Januari 2014

Kumpulan Pidato Mohammad Hatta, dari tahun 1942 s.d. 1949




Judul: Kumpulan Pidato Dari tahun 1942 s.d. 1949
Penulis: Mohammad Hatta
Penyusun: I. Wangsa Widjaja & Meutia F. Swasono (anak Bung Hatta)
Bahasa: Indonesia
Kulit Muka: Soft Cover
Tebal: 332 Halaman
Dimensi: 15 x 21 Cm
Penerbit: Yayasan Idayu, Jakarta
Tahun: Cetakan Pertama, 1981
Kondisi: Bagus

Bahkan di Belanda, Bung Hatta Berpidato dalam Bahasa Indonesia
Suasana negri Belanda yang dingin di akhir bulan Desember 1949, namun terlihat di lapangan di depan Paleis op de Dam banyak sekali masyarakat yang berkumpul terutama masyarakat Indonesia yang ada di Negri Belanda. Mereka dengan bersemangat menanti kedatangan Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta. Terlihat Bung Hatta memakai mantel hitam yang tebal namun tidak memakai penutup kepala atau peci.

Upacara dimulai dengan Bung Hatta memeriksa barisan kehormatan dan kemudian gambar dilanjutkan dengan suasana di dalam istana.penyerahan kedaulatan yang terjadi pada 27 desember 1949 di Istana Dam. Peristiwanya adalah Soevereiniteits Overdracht in Het Koninklijk Paleis te Amsterdam atau Penyerahan Kedaulatan di Istana Kerajaan di Amsterdam.

Sebelum upacara dimulai, perwakilan negri Belanda dan Indonesia sempat beramahtamah dan kemudian dilaksanakan upacara penyerahan kedaulatan dari Ratu Juliana kepada wakil presiden Republik Indonesia Bung Hatta. Dalam upacara ini terlihat juga Sultan Pontianak Alkadrie dan Prof Dr Supomo,. Sedangkan dari delegasi Belanda terlihat PM Belanda Willem Drees dan juga Van Royen yang terkenal dengan perjanjian Roem Royen itu.

Setelah penandatanganan teks naskah penyerahan kedaulatan , dilanjutkan dengan pidato Ratu Juliana dalam Bahasa Belanda. Setelah itu dilanjutkan oleh pidato Bung Hatta yang dibacakan dalam Bahasa Indonesia. Dalam acara itu, hampir semua pidato maupun protokoler dilaksanakan dalam dua bahasa yaitu bahasa Belanda dan Bahasa Inggris. Konon teks pidato dalam bahasa Indonesia yang ditulis tangan ini keesokan harinya diserahkan kepada PM Belanda sebagai kenang-kenangan.

Disinilah kita melihat betapa tingginya nilai nasionalisme Bung Hatta. Beliau mengucapkan pidato ini dalam bahasa Indonesia bukan karena beliau tidak bisa berbahasa Inggris atau Belanda. Tentu saja beliau fasih kedua bahasa itu. Apalagi beliau sempat tinggal bertahun-tahun di Belanda ketika menuntut ilmu di negri kincir angin ini.

Penyerahan kedaulatan ini merupakan hasil dari Konperensi Meja Bundar atau Ronde Tafel Conferentie (RTC) yang diadakan di Den Haag pada 23 Agustus sampai 2 November 1949. Dan bersamaan dengan penyerahan kedaulatan inilah maka keberadaan Republik Indonesia pun diakui di tatanan bangsa-bangsa di dunia.
Sumber: http://sejarah.kompasiana.com/

Untuk melihat gambar yang lebih besar / lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.

Keterangan lebih lanjut mengenai pembelian, pengiriman barang,
cara pembayaran dll. silahkan hub. 0813.1540.5281
atau e-mail: neneng1971@yahoo.com.
Sudah Terjual

Buku kuno dari awal th.1950 an, Master Plan dari Kota Baru Kebajoran

Kebajoran, a new town under construction

Master Plan kota satelit Kebajoran

Jakarta ke Kebayoran saat itu masih berjarak 4,5 kilometer,
sekarang sudah menjadi satu kota Metropolitan (DKI Jakarta)

Mabes POLRI di Jl. Trunojoyo

Bioskop Mayestik yang masih baru

Pertokoan yang sekarang adalah komplek pertokoan/pasar Mayestik

Gedung yang sekarang di perempatan CSW

Sebuah Empang yang kini menjadi Taman Ayodhya Barito
dibelakangnya adalah Gereja Katolik Blok B

Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) 
sekarang di Jl. Falatehan, tidak jauh dari terminal Bus Blok M

Rumah dengan model seperti ini, banyak ditemui saat ini
di Jl. Panglima Polim IX


Kantor Pos yang sekarang di Taman Puring, dekat Mayestik

Perkembangan Kebayoran dari th.1949 s/d 1954


Buku kuno dari awal th.1950 an, buku “Master Plan” rencana Kota Baru Kebajoran.
A New Town Under Construction, an Impression of a Satelite Town.
Dicetak oleh: Van Dorp Djakarta
Dengan penyusun buku: Prof. Ir. K. Hadinoto.
Isi buku dari awal sampai akhir adalah Foto-foto jadul dari awal dibangunnya Kebayoran Baru.
Didalam buku ada banyak lagi foto-foto jadul Kebayoran Baru, selain yang terdapat diatas.

Adolf  Heuken menulis, dulu kawasan Menteng di Jakarta Pusat merupakan
kota taman pertama di Indonesia, tentunya yang dirancang para arsitek Belanda.
Namun, banyak warga Jakarta yang belum tahu bahwa Kebayoran Baru di Jakarta Selatan adalah kota taman pertama di Indonesia yang dirancang arsitek lokal, Moh. Soesilo (1948).

Pada tahun tahun 1938 kawasan Kebayoran direncanakan akan dibangun sebuah lapangan terbang internasional. Namun rencana itu batal karena keburu perang dunia II.
Akhirnya dibangunlah kota satelit Kebayoran Baru, yang meliputi areal seluas 730 hektar. Kawasan ini direncanakan untuk menampung 100 ribu penduduk.
Mungkin kini, jumlah penduduk Kebayoran bisa berlipat-lipat dengan jumlah penduduk
yang rencananya akan ditampung.

Pada tahun 1950-an, kawasan Kebayoran Baru terus berkembang.
Namun meski terus berkembang, tetap saja sering disebut kampung udik.
Penduduknya pun disebut sebagai orang udik.
Maklum, Kebayoran Baru dulu letaknya terpisah dari pusat Kota Jakarta,
sekitar 8 kilometer ke arah selatan Batavia.

Saat itu, untuk masuk kawasan Kebayoran Baru, hanya ada dua jalan.
Pertama melalui Kebayoran Lama terus melalui Jalan Kyai Maja
atau melewati Manggarai dan masuk ke Jalan Wolter Monginsidi yang becek.
Jalan Sudirman ketika itu belum ada.
Warga Jakarta dulu pasti berpikir seribu kali jika akan menuju kawasan Kebayoran Baru.
Selain kawasan ini sepi, ada jagoan bernama Mat Item.
Mereka takut dihadang Mat Item, jagoan Kebayoran Lama yang dikenal sangar.

Cerita tentang Kebayoran Baru juga mengalir lancar dari bibir Adolf Heuken, 79 tahun.
Pastor Jesuit asal Jerman itu mengatakan, Kebayoran Baru saat masa penjajahan Belanda merupakan kota satelit Batavia.
"Kebayoran baru adalah tempat ruang terbuka hijau," kata Adolf.
Pada tahun 1963 fungsi dari Kebayoran Baru sebagai kota satelit masih dipertahankan.
"Dulu tidak ada jalan dan perumahan di daerah itu, seperti Mampang, Warung Buncit
dan Pejaten," katanya. Semua lahannya masih ditumbuhi pepohonan.

Adolf mengatakan, pada masa pemerintahan Gubernur DKI Ali Sadikin,
wilayah Kebayoran hingga Semanggi tidak diperbolehkan untuk mendirikan bangunan.
Namun dalam perkembangannya makin banyak para pendatang dari luar Jakarta
yang memenuhi wilayah Kebayoran.
Tentunya makin banyaknya penduduk, memicu pembangunan pembangunan rumah
yang begitu cepat. "Ini juga yang membuat harga tanahnya terus tinggi," ujarnya.

Sebenarnya pada tahun 1950, Kebayoran Baru dirancang untuk ditempati 50 ribu orang saja.
Tapi sekarang jumlahnya jauh melebihi itu.
Dulunya kota satelit tapi sekarang kota yang krodit.


Untuk melihat gambar yang lebih besar / lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.

Keterangan lebih lanjut mengenai pembelian, pengiriman barang,
cara pembayaran dll. silahkan hub. 0813.1540.5281

atau e-mail: neneng1971@yahoo.com .
Sudah Terjual