Senin, 27 Januari 2014

Foto jadul Presiden RI kedua, Soeharto dengan isteri Ibu Tien dan Wakil Presiden th.1983-88 Umar Wirahadikusumah dan isteri Ibu Karlinah.

Foto - tampak depan

Gambar dekat, dari kiri kekanan:
Ibu Karlinah, Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah, Ibu Tien, Presiden Soeharto

Bagian belakang foto, dengan dudukan foto untuk diatas meja.

Foto jadul Presiden RI kedua, Soeharto dengan isteri Ibu Tien dan Wakil Presiden th.1983-88 Umar Wirahadikusumah dan isteri Ibu Karlinah.
Foto dicetak atau print di atas kayu, tehnik cetak foto yang populer di masa th.1980an.
Ukuran lumayan besar:  25 cm x 20 cm.
Kondisi: masih bagus, ada sedikit noda kecil di bagian bawah foto.
Foto jadul lengkap Presiden Soeharto dengan isteri Ibu Tien dan Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah dan isteri Ibu Karlinah, adalah item yang langka saat ini.

Soeharto Presiden RI kedua, menjadi tokoh yang kini mulai dirindukan. 
Tanggal 28 Januari 2014 merupakan 6 tahun meninggalnya Soeharto.
Astana Giribangun yang berada di Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, merupakan lokasi makam pria yang akrab disapa Pak Harto ini. Di dalam makam yang luas ini, terdapat lokasi utama sebuah masjid yang dinamakan Cungkup Argosari dengan dinding terbuat dari kayu dan berukir khas Jawa. Di tempat tersebut Pak Harto dan keluarganya di makamkan.

Penjaga Astana Giribangun, Samidi mengatakan makam kini mulai ramai dikunjungi peziarah dari beberapa daerah. "Ini mulai banyak peziarah yang datang ke makam Pak Harto, besok Selasa kan 6 tahun meninggalnya Pak Harto," jelasnya.
Detikcom berkesempatan berziarah ke Astana Giribangun yang berada di Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, ini pada Minggu (26/1/2014).

Pengunjung di Astana Giribangun juga cukup ramai. Saat detikcom menengok makam Pak Harto ada puluhan peziarah sedang mendoakan di depan nisan Pak Harto yang berada di bawah bangunan joglo dari kayu yang kokoh, sementara itu puluhan orang lainnya mengantre di depan pintu.
Pengunjung tak hanya dari masyarakat yang ingin berziarah. Para caleg yang akan berlaga di Pemilu 2014 juga mulai sowan ke makam Pak Harto.

Sumber:

Untuk melihat gambar yang lebih besar / lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.

Keterangan lebih lanjut mengenai pembelian, pengiriman barang,
cara pembayaran dll. silahkan hub. 0813.1540.5281
atau e-mail: neneng1971@yahoo.com.
Sudah Terjual

Minggu, 26 Januari 2014

Foto jadul Kepolisian di Sumatra pada masa Interim/Revolusi Kemerdekaan th.1945-49.

Foto tampak depan

Kantor Kepolisian Sumatra Tengah - Bukit Tinggi

Gambar dekat

Gambar dekat

Foto tampak belakang

Foto jadul Kepolisian di Sumatra pada masa Interim/Revolusi Kemerdekaan th.1945-49.
Tersimpan dalam lembaran Album foto yang juga jadul.
Ukuran lumayan besar: 24,5 cm x 19,5 cm (dengan lembar albumnya) dan 21.5 cm x 16 cm (fotonya saja).
Pada bagian belakang foto terdapat noda penuaan (kekuningan/foxing) dan sedikit noda warna biru dibagian depan, maklum foto yg sudah tua. Kondisi foto keseluruhan masih bagus, tidak ada robek atau lipatan.

Pembentukan kepolisian di Sumatera dipelopori oleh AKBP Raden Sulaiman atas bimbingan Gubernur Sumatera Mr. Tengku Muhammad Hasan. Saat itu seluruh Sumatera dibagi atas tiga daerah Penilik Kepolisian. Untuk Sumatera Utara berkedudukan di Sibolga, Sumatera Tengah berkedudukan di Bukittinggi dan Sumatera Selatan berkedudukan di Lubuklinggau.

Pada Mei 1947, Komisaris Besar Polisi Oemar Said datang ke Sumatera untuk menyempurnakan organisasi kepolisian Sumatera, agar sesuai dengan struktur yang berlaku di Jawa. Tujuannya untuk memperlancar hubungan antara pusat dan daerah Sumatera. Oemar Said kemudian diangkat menjadi Kepala Cabang Kepolisian Negara berkedudukan di Bukittinggi. Dalam situasi perang kemerdekaan, perkembangan organisasi kepolisian tidak dapat berkembang dengan baik karena harus mengikuti perubahan-perubahan politik yang terjadi.

Pada jaman perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia, Bukitinggi berperan sebagai kota perjuangan. Dari bulan Desember 1948 sampai dengan Juni 1949 ditunjuk sebagai Ibu Kota Pemerintahan darurat Republik Indonesia ( PDRI ), setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda.

Bukittinggi pernah menjadi Ibukota Propinsi Sumatera Tengah dengan  Gubernurnya Mr. Tengku Muhammad Hasan. Dalam peraturan Pemerintah pengganti undang-undang No. 4 tahun 1959 Bukittinggi ditetapkan sebagai Ibu Kota Sumatera Tengah yang meliputi keresidenan-keresidenan Sumatera Barat, Jambi dan Riau. Sekarang masing-masing Keresidenan itu telah menjadi Propinsi-propinsi sendiri.

Untuk melihat gambar yang lebih besar / lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.

Keterangan lebih lanjut mengenai pembelian, pengiriman barang,
cara pembayaran dll. silahkan hub. 0813.1540.5281
atau e-mail: neneng1971@yahoo.com.
Sudah Terjual

Intermezzo - Santai sejenak

Foto-foto di bawah ini adalah keadaan kota Jakarta dari tahun 1910 s/d 60an.
Bagi yang tinggal di Jakarta tentu bisa mengetahui lokasi dari area yang ada di foto. .
Saat itu keadaan kota masih lengang, mobil bisa di hitung dengan jari, belum macet parah seperti sekarang, apalagi pada jam pulang kantor.
Langit masih biru dan bersih, tentunya juga udara masih jauh dari polusi.

Untuk melihat gambar yang lebih besar/lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.


Lokasi sekarang: Stasiun Kereta Api Beos dan Museum Bank Mandiri


Lokasi sekarang: Perempatan Pintu Air, depan Masjid Istiqlal

Lokasi sekarang: Jalan arah ke Pasar Ikan, dekat jembatan kota Inten.

Lokasi sekarang: Jalan Senen Raya arah ke Jl. Gunung Sahari

Lokasi sekarang: Jembatan yang menuju gerbang masuk ke Pasar Baru.

Lokasi sekarang: Foto Udara dari Jl. Kali Besar, Jakarta Kota.

Lokasi sekarang: Kali Ciliwung di tengah Jl. Hayam Wuruk dan Jl. Gajah Mada

Lokasi sekarang: Jalanan tertutup di sepanjang komplek pertokoan Pasar Baru.

Lokasi sekarang: Tugu Pancoran yang sudah dipenuhi gedung2 tinggi dan jalan layang.

Lokasi sekarang: Jl. M.H. Thamrin yang sudah dipenuhi gedung2 pencakar langit.