Minggu, 26 Januari 2014

Foto jadul Kepolisian di Sumatra pada masa Interim/Revolusi Kemerdekaan th.1945-49.

Foto tampak depan

Kantor Kepolisian Sumatra Tengah - Bukit Tinggi

Gambar dekat

Gambar dekat

Foto tampak belakang

Foto jadul Kepolisian di Sumatra pada masa Interim/Revolusi Kemerdekaan th.1945-49.
Tersimpan dalam lembaran Album foto yang juga jadul.
Ukuran lumayan besar: 24,5 cm x 19,5 cm (dengan lembar albumnya) dan 21.5 cm x 16 cm (fotonya saja).
Pada bagian belakang foto terdapat noda penuaan (kekuningan/foxing) dan sedikit noda warna biru dibagian depan, maklum foto yg sudah tua. Kondisi foto keseluruhan masih bagus, tidak ada robek atau lipatan.

Pembentukan kepolisian di Sumatera dipelopori oleh AKBP Raden Sulaiman atas bimbingan Gubernur Sumatera Mr. Tengku Muhammad Hasan. Saat itu seluruh Sumatera dibagi atas tiga daerah Penilik Kepolisian. Untuk Sumatera Utara berkedudukan di Sibolga, Sumatera Tengah berkedudukan di Bukittinggi dan Sumatera Selatan berkedudukan di Lubuklinggau.

Pada Mei 1947, Komisaris Besar Polisi Oemar Said datang ke Sumatera untuk menyempurnakan organisasi kepolisian Sumatera, agar sesuai dengan struktur yang berlaku di Jawa. Tujuannya untuk memperlancar hubungan antara pusat dan daerah Sumatera. Oemar Said kemudian diangkat menjadi Kepala Cabang Kepolisian Negara berkedudukan di Bukittinggi. Dalam situasi perang kemerdekaan, perkembangan organisasi kepolisian tidak dapat berkembang dengan baik karena harus mengikuti perubahan-perubahan politik yang terjadi.

Pada jaman perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia, Bukitinggi berperan sebagai kota perjuangan. Dari bulan Desember 1948 sampai dengan Juni 1949 ditunjuk sebagai Ibu Kota Pemerintahan darurat Republik Indonesia ( PDRI ), setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda.

Bukittinggi pernah menjadi Ibukota Propinsi Sumatera Tengah dengan  Gubernurnya Mr. Tengku Muhammad Hasan. Dalam peraturan Pemerintah pengganti undang-undang No. 4 tahun 1959 Bukittinggi ditetapkan sebagai Ibu Kota Sumatera Tengah yang meliputi keresidenan-keresidenan Sumatera Barat, Jambi dan Riau. Sekarang masing-masing Keresidenan itu telah menjadi Propinsi-propinsi sendiri.

Untuk melihat gambar yang lebih besar / lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.

Keterangan lebih lanjut mengenai pembelian, pengiriman barang,
cara pembayaran dll. silahkan hub. 0813.1540.5281
atau e-mail: neneng1971@yahoo.com.
Sudah Terjual

Intermezzo - Santai sejenak

Foto-foto di bawah ini adalah keadaan kota Jakarta dari tahun 1910 s/d 60an.
Bagi yang tinggal di Jakarta tentu bisa mengetahui lokasi dari area yang ada di foto. .
Saat itu keadaan kota masih lengang, mobil bisa di hitung dengan jari, belum macet parah seperti sekarang, apalagi pada jam pulang kantor.
Langit masih biru dan bersih, tentunya juga udara masih jauh dari polusi.

Untuk melihat gambar yang lebih besar/lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.


Lokasi sekarang: Stasiun Kereta Api Beos dan Museum Bank Mandiri


Lokasi sekarang: Perempatan Pintu Air, depan Masjid Istiqlal

Lokasi sekarang: Jalan arah ke Pasar Ikan, dekat jembatan kota Inten.

Lokasi sekarang: Jalan Senen Raya arah ke Jl. Gunung Sahari

Lokasi sekarang: Jembatan yang menuju gerbang masuk ke Pasar Baru.

Lokasi sekarang: Foto Udara dari Jl. Kali Besar, Jakarta Kota.

Lokasi sekarang: Kali Ciliwung di tengah Jl. Hayam Wuruk dan Jl. Gajah Mada

Lokasi sekarang: Jalanan tertutup di sepanjang komplek pertokoan Pasar Baru.

Lokasi sekarang: Tugu Pancoran yang sudah dipenuhi gedung2 tinggi dan jalan layang.

Lokasi sekarang: Jl. M.H. Thamrin yang sudah dipenuhi gedung2 pencakar langit.

Sabtu, 25 Januari 2014

Untuk Kolektor Filateli Langka, Dokumen daftar oepah dari th.1936, dengan 6 bh. Perangko Loonzegel


6 bh. Perangko Loonzegel diatas dokumen

Daftar Oepah dari Ben Heng Fotoservice, Tjikeumeuh weg 12, Buitenzorg
(sekarang jalan Merdeka 12, Bogor)

Gambar dekat perangko Loonzegel

Dokumen tua dari jaman Belanda (Nederlandsch Indie)
Dokumen daftar oepah dari th.1936, dengan 6 bh. Perangko revenue Loonzegel yg langka.
Berasal dari sebuah foto studio di Jl. Cikeumeuh, Buitenzorg (sekarang Jl. Merdeka, Bogor).

Perangko pajak gaji fiskal (Loonzegels) adalah  administrasi pos di Indonesia sebelum Perang Dunia II di jaman Hindia Belanda dan Masa Pendudukan Jepang,
Secara umum, penerima dokumen yang bertanggung jawab atas biaya transaksi, dan Loonzegel yang melekat pada dokumen sebagai pembayaran. Untuk mengakomodasi hal ini ada beberapa jenis Loonzegel tergantung pada sifat transaksi, apakah dokumenter atau pendapatan upah.

Untuk melihat gambar yang lebih besar / lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.

Keterangan lebih lanjut mengenai pembelian, pengiriman barang,
cara pembayaran dll. silahkan hub. 0813.1540.5281
atau e-mail: neneng1971@yahoo.com.
Sudah Terjual