Jumat, 24 Januari 2014

8 bh. Gambar Print kuno dari jaman Belanda sudah sangat tua/antik, berumur 2 Abad lebih







Terdapat pada bagian bawah, dicetak pada 1 Mei th.1811

Terdapat pada bagian bawah, dicetak pada 1 Mei th.1811

8 bh. gambar print yang sudah sangat tua/antik, berumur 2 Abad lebih.
Menggambarkan tentang Kerajaan Persepolis (Kekaisaran Persia) jaman dulu.
Milik dari seorang keturunan Belanda di Depok Lama, 
sebuah daerah di pinggiran Jakarta dan Bogor yang dari jaman dulu banyak keturunan Belandanya.

Ukuran lumayan besar: 29,5 cm x 23 cm, untuk 4 bh.  dan  29,5 cm x 22 cm, untuk 4 bh. lainnya.
Kondisi: Bagus walaupun sudah berumur 200 tahun lebih, terbuat dari kertas jaman dulu yang kuat/tebal, 
tidak ada robek. Sebagian terdapat noda penuaan (kekuningan/foxing) karena sudah sangat tua.
Gambar Print kuno dari jaman Belanda adalah barang langka saat ini.

Sangat historis dan indah setelah diberi bingkai / frame dan dipajang di ruang tamu,
dan akan menjadi pusat perhatian dari setiap tamu yang datang ke rumah anda.
Juga merupakan sebuah Investasi yang bagus, karena gambar print kuno nilainya terus meningkat 
dan akan sangat tinggi di masa yang akan datang.

Persepolis (Persia Lama) adalah sebuah ibu kota kuno dari Kekaisaran Persia, terletak 70 km timur laut Shiraz, Iran. Dalam bahasa Persia kuno, kota ini disebut Parsa, yang berarti "Kota Bangsa Persia".
Persepolis adalah terjemahan bahasa Yunani dari nama kota ini: Persēs Polis - Kota Persia.

Arkeologi menunjukkan bahwa reruntuhan Persepolis yang paling awal berasal dari sekitar tahun 515 SM. André Godard, seorang arkeolog Perancis pada awal 1930-an menyatakan bahwa Cyrus Agung memilih lokasi Persepolis, tetapi Darius Agunglah yang membangun teras pelataran dan kompleks bangunan istananya.

Darius memerintahkan pembangunan Balai Apadana dan Balai Konsul (Tripylon atau Balai Tiga Gerbang), yang menjadi bangunan Perbendaharaan Kemaharajaan, serta beberapa bangunan disekelilingnya. Pembangunan ini dirampungkan pada masa pemerintahan putranya, Raja Xerxes Agung. Pembangunan lebih lanjut pada bangunan dan teras terus dilanjutkan hingga masa keruntuhan Kekaisaran Akhemeniyah.

Pada tahun 1979 UNESCO mendeklarasikan kota Persepolis sebagai Situs Warisan Dunia.

Dibawah ini adalah gambar2 foto Arkeologi dari reruntuhan sisa2 kejayaan kota Persepolis









Untuk melihat gambar yang lebih besar / lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.

Harga: (Sold)
Sudah termasuk ongkos kirim via TIKI JNE atau Pos Indonesia.
Keterangan lebih lanjut mengenai pembelian, pengiriman barang,
cara pembayaran dll. silahkan hub. 0813.1540.5281
atau e-mail: neneng1971@yahoo.com.
Sudah Terjual

Rabu, 22 Januari 2014

Buku kuno tentang Mantera-mantera dan Rahasia2 lainnya

Kitab Kamus Waspada

Oleh: Ki Hadjar Adi Prawoto

Buku diterbitkan th.1952

Mantera Penolak Bahaya

Mantera Kecantikan Wanita

Menyembuhkan berbagai penyakit dengan Occultisme (Dukun)

Pengetahuan dan Jiwanya - Tanda tangan

Rahasia Huruf Latin

Daya Pengaruhnya Bintang-Bintang (Astrology)

Pengaruh Bintang-bintang pada setiap Hari dan Jam

Ilmu Falak


Untuk melihat gambar yang lebih besar / lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.

Keterangan lebih lanjut mengenai pembelian, pengiriman barang,
cara pembayaran dll. silahkan hub. 0813.1540.5281

atau e-mail: neneng1971@yahoo.com.
Sudah Terjual

Selasa, 21 Januari 2014

Buku karangan R.A. Kartini "Habis Gelap Terbitlah Terang".

Habis Gelap Terbitlah Terang

Buku diterbitkan: Djakarta 1962

R.A. Kartini

Tiga Serangkai: Kartini - Kardinah - Rukmini

R.M. Adipati Ario Sosroningrat, ayah dari R.A. Kartini

Dr. N. Adriani dan isteri (di foto tahun 1911)

H. van Kol dan anaknja perempuan (di foto tahun 1904)

Kerajinan mengukir kayu di kota Jepara sudah ada sejak jaman Belanda.


Makam R.A. Kartini di Bulu, dekat Rembang.

Buku karangan R.A. Kartini
"Habis Gelap terbitlah terang"
Diterbitkan oleh Balai Pustaka Djakarta  th.1962
Tebal:  234 halaman plus.
Kondisi buku: ada kekuningan asli buku jadul, halaman lengkap.
Buku Kartini yang jadul (bukan edisi masa kini) adalah buku yang cukup langka.
             
Raden Ajeng Kartini
"Door Duisternis tot Licht" - "Habis Gelap Terbitlah Terang", itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.

Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.

Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu.

Pada saat itu, Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879, ini sebenarnya sangat menginginkan bisa memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, namun sebagaimana kebiasaan saat itu dia pun tidak diizinkan oleh orang tuanya.

Dia hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar. Setamat E.L.S, Kartini pun dipingit sebagaimana kebiasaan atau adat-istiadat yang berlaku di tempat kelahirannya dimana setelah seorang wanita menamatkan sekolah di tingkat sekolah dasar, gadis tersebut harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah.

Merasakan hambatan demikian, Kartini remaja yang banyak bergaul dengan orang-orang terpelajar serta gemar membaca buku khususnya buku-buku mengenai kemajuan wanita seperti karya-karya Multatuli "Max Havelaar" dan karya tokoh-tokoh pejuang wanita di Eropa, mulai menyadari betapa tertinggalnya wanita sebangsanya bila dibandingkan dengan wanita bangsa lain terutama wanita Eropa. 
 Dia merasakan sendiri bagaimana ia hanya diperbolehkan sekolah sampai tingkat sekolah dasar saja padahal dirinya adalah anak seorang Bupati. Hatinya merasa sedih melihat kaumnya dari anak keluarga biasa yang tidak pernah disekolahkan sama sekali.

Sejak saat itu, dia pun berkeinginan dan bertekad untuk memajukan wanita bangsanya, Indonesia. Dan langkah untuk memajukan itu menurutnya bisa dicapai melalui pendidikan. Untuk merealisasikan cita-citanya itu, dia mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semuanya itu diberikannya tanpa memungut bayaran alias cuma-cuma.

Bahkan demi cita-cita mulianya itu, dia sendiri berencana mengikuti Sekolah Guru di Negeri Belanda dengan maksud agar dirinya bisa menjadi seorang pendidik yang lebih baik. Beasiswa dari Pemerintah Belanda pun telah berhasil diperolehnya, namun keinginan tersebut kembali tidak tercapai karena larangan orangtuanya. Guna mencegah kepergiannya tersebut, orangtuanya pun memaksanya menikah pada saat itu dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang.

Berbagai rintangan tidak menyurutkan semangatnya, bahkan pernikahan sekalipun. Setelah menikah, dia masih mendirikan sekolah di Rembang di samping sekolah di Jepara yang sudah didirikannya sebelum menikah. Apa yang dilakukannya dengan sekolah itu kemudian diikuti oleh wanita-wanita lainnya dengan mendirikan ‘Sekolah Kartini’ di tempat masing-masing seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon.

Setelah meninggalnya Kartini, surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Apa yang terdapat dalam buku itu sangat berpengaruh besar dalam mendorong kemajuan wanita Indonesia karena isi tulisan tersebut telah menjadi sumber motivasi perjuangan bagi kaum wanita Indonesia di kemudian hari.

Apa yang sudah dilakukan RA Kartini sangatlah besar pengaruhnya kepada kebangkitan bangsa ini. Mungkin akan lebih besar dan lebih banyak lagi yang akan dilakukannya seandainya Allah memberikan usia yang panjang kepadanya. Namun Allah menghendaki lain, ia meninggal dunia di usia muda, usia 25 tahun, yakni pada tanggal 17 September 1904, ketika melahirkan putra pertamanya.

Mengingat besarnya jasa Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara, pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.
Sumber: http//www.tokohindonesia.com
Untuk melihat gambar yang lebih besar / lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.

Keterangan lebih lanjut mengenai pembelian, pengiriman barang,
cara pembayaran dll. silahkan hub. 0813.1540.5281
atau e-mail: neneng1971@yahoo.com .
Sudah Terjual